kanjeng syekh &ayam jago

GambarMengapa kamu kurus begini apa yang kamu makan?”,  Ibu itu melihat piring anaknya.

“Nasi bulgur…. ? Pantas saja kamu kurus”

Ibu itu bergegas mendatangi rumah kanjeng syekh ; guru anaknya. Rumah beliau tidak jauh dari asrama putranya.

”Assalamualaikum, Kanjeng syekh

“Walaikum salam”, terdengar Kanjeng syekh menjawaban dari dalam.

“Silahkan masuk”.

Si ibu segera masuk ke rumah Kanjeng syekh. Dia melihat Kanjeng  syekh sedang makan dengan lahap. Tampak tulang belulang ayam bergeletakan di sekitar piring. Sambil makan Kanjeng syekh bertanya:

“ Ada apa, bu, kok tampaknya ibu tergesa-gesa sekali ?”

Muka si ibu tampak memerah karena menahan jengkel. Napasnya naik turun seakan ada yang harus segera ia sampaikan. Ibu itu kesal karena anak yang dia titipkan tadinya gemuk dan sehat sekarang tampak kurus dan pucat ditambah lagi Kanjeng syekh enak-enakan makan ayam sedang anaknya makan nasi bulgur.

“Maap, Kanjeng syekh, pertama kali saya menitipkan anak saya, dia sehat dan gemuk. Tapi sekarang dia kurus dan pucat. Saya lihat yang dia makan ternyata nasi bulgur dan sayur bening. Saya kesini mau mengadukan perihal putra saya itu…ee….taunya Kanjeng syekh malah makan yang enak-enak. Apa tidak salah ? Seharusnya Kanjeng syekh memberi contoh kepada para murid. Kalau mereka Kanjeng syekh suruh makan bulgur seharusnya Kanjeng syekh  juga makan bulgur tapi  Kanjeng syekh  malah enak-enak makan daging ayam ?” kata ibu itu dengan nada jengkel.

“ Oh..begitu…”, jawab Kanjeng syekh. Beliau tidak marah diprotes sedemikian rupa karena satu cara belajar dan mendapatkan informasi atau masukan juga melalui jalan diprotes.

Kemuliaan Kanjeng Syekh

“Tolong putranya suruh kemari”perintah Kanjeng syekh.  Anak si ibu segera dipanggil menghadap sang guru. “Sudah berapa lama kamu mondok disini, cung ?” tanya Kanjeng syekh.  Kacung adalah panggilan akrab seorang Kyai  kepada anak murid yang masih baru dan muda.

“Baru enam bulan, Kanjeng syekh”

“Enam bulan ? “

“Betul. Kanjeng syekh”

“Tolong kamu kumpulkan tulang-tulang yang di buang tadi dan letakkan di dekat saya. Setelah itu kamu duduk disini dekat ibumu. Jangan pergi ya ? Saya mau cuci tangan dulu” kata Kanjeng syekh  sambil masuk kedalam.

”Baik,  Kanjeng syekh”.  Anak itu segera mengumpulkan tulang ayam yang sudah dibuang dari dari tempat sa

ayam jago 120x120 Kanjeng Syekh dan Ayam Jago

mpah kemudian ditaruhnya diatas piring dan diletakkan dekat tempat duduk Kanjeng syekh. Tak lama berselang Kanjeng syekh keluar lagi.

“Sudah… ?” Kanjeng syekh meletakkan piring itu didepannya kemudian dengan lantang Kanjeng syekh  berkata : “Hei tulang belulang, jadilah kau ayam kembali dengan ijin Tuhan; Dzat yang menghidupkan tulang belulang  yang sudah hancur bercampur tanah”. Seketika itu juga tulang itu berubah menjadi ayam jago dan berkokok : “Tiada Tuhan selain Alloh.  Muhammad utusan Alloh.  Kanjeng Syekh Abdul Qodir Kekasih Alloh”.

Nasehat  Kanjeng Syekh

“Nah…, jika putra ibu sudah bisa seperti ini mau makan apa saja silahkan tetapi sekarang biarkan dia prihatin dulu, belajar dulu, jangan banyak makan yang enak-enak, jangan banyak molor (tidur). Biarkan dia menjalani keprihatinannya agar nantinya dia bisa jadi orang sukses. Sebab orang kalau mau sukses, ya… prihatin dulu. Tidak ada kesuksesan yang diperoleh  tanpa didahului oleh keprihatinan” ujar kanjeng syekh kepada si ibu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s