Mengapa Malu Mengucapkan Salam…?

salamBertemu tanpa tegur sapa, biasanya lagi ada masalah. Merupakan hal lumrah, apalagi jika lama tak bersua, tegur sapa seakan menjadi hidangan awal. “Apa kabar, hello, hai, malam, siang, pagi…” adalah sapaan yang sudah tak lagi basi. Salam seperti itu merupakan bentuk salam biasa yang secara makna, hanya menunjukan perhatian berbarengan dengan ucapan sapa.

Bagi umat Islam, tak ada yang tidak diatur sedemikian rupa, sampai kepada hal sapa menyapa. Ucapan salam, itulah petunjuk dari Nabi saw, ketika berpapasan dengan orang lain. Ungkapan berbau keakraban dan mampu memecah kebekuan suasana. Hanya sepotong kalimat, namun mampu menjaga hubungan ukhuwah.

Namun ucapan ini, akhir-akhir ini seakan menjadi barang mahal. Lidah beku dan malu mengucapkannya. Sesama saudara saja, ucapan ini sudah langka, apalagi kepada orang yang tidak dikenal. Mungkin inilah salah satu tanda akhir zaman. Meski di sekolah saya, mengucapkan salam menjadi aturan bagi siswa, namun tak cukup membuat malu para guru untuk setidaknya “kencing berdiri” dalam hal itu.

Kelangkaan ucapan salam hari ini, bisa jadi disebabkan karena faktor ketidaktahuan sebahagian umat muslim. Salam adalah doa. Mengucapkan salam kepada orang lain, secara langsung pemberi salam mendoakan agar orang yang disalami, selamat. Dalam adab mengucapkan salam pun, terdapat hikmah luar biasa besarnya. Hikmah tersebut didapatkan jika ucapan salam tersebut termanifesto dalam keseharian.

Penyakit yang paling kentara bagi manusia, adalah rasa malu melakukan kebaikan. Jika hubungannya dengan pengucapan salam, rasa malu mengucapkannya, lebih menguasai daripada menghindari ucapan salam. Kenapa demikian ?. jawabanya adalah kebiasaan bentuk pengucapan salam yang masih kurang.

Bentuk mengucapkan salam yang termuat dalam hadis diantaranya; 1) yang muda mengucapkan salam lebih awal dari yang lebih tua. Hikmahnya, yang lebih tua dihormati dan yang lebih muda disayangi. 2) yang berjalan memberi salam kepada yang duduk. Hikmahnya menghindari prasangka sombong dari orang yang duduk. 3) yang sedikit kepada yang leih banyak.

Ada sabda Nabi berbunyi:

“Yang paling dekat dengan Allah adalah orang yang lebih dahulu mengucapkan salam”

Kedekatan kepada Allah adalah kedekatan terhadap manusia lain. Mengucapkan salam lebih awal adalah wujud, bahwa kita selalu dekat dengan orang lain tanpa pandang bulu siapa orang tersebut. Artinya, jika seagai umat musim, kita belum bisa melaksanakan hal tersebut, maka sulit megklai diri kirta dekat dengan Allah.

Sebagai kaum yang mengaku bahwa Rasulullah saw, adalah teladan dalam kehidupan keseharian, tak sepantasnya lagi menjadi pelit, dengan minder hanya kepada pengucapan salam. Mulai kini, rasa pelit itu mesti dikikis sedikit demi sedikit. Ucapan salam manfaatnya kepada pemberi dan penerima. Pelit mengucapkan salam, berarti pelit terhadap diri sendiri. Mari mereview ucapan salam kita. (termasuk penulis J)

sumber :  http://mushlihin.com/2013/01/oase/ketika-malu-mengucapkan-salam.php/attachment/salma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s