Category Archives: Hikmah

Hukum Menggosok Gigi Ketika Berpuasa

sikat gigiMenyikat gigi merupakan salah satu sunnah Rosulullah yang sangat dianjurkan dalam setiap keadaan.Sebagaimana sabda Rosulullah yang diceritakan oleh Abu Hurairah r.a,bahwannya Rosulullah bersabda :

لَوْلا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلاةٍ

“Andaikan tidak memberatkan umatku, niscaya perintahkan mereka untuk gosok gigi setiap hendak shalat.” (HR. Bukhari, no. 887)

Hadits lain yang diceritakan oleh Aisyah r.a, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبّ

“Bersiwak bisa membersihkan mulut dan mendatangkan ridha eAllah.” (HR. Nasa’i dan dishahihkan al-Albani)”

Pun dengan kehidupan kita sehari-hari,menggosok gigi merupakan rutinitas yang tidak bisa kita hindarkan.Karena dalam aktifitas yang  kita jalani,tentunya kita selalu berinteraksi dengan orang lain.Bisa kita bayangkan,seandainya bau mulut kita tidak enak,mungkin orang lain akan menganggap kita jorok atau tidak menjaga kebersihan,akibatnya orang tentu akan merasa malas untuk berinteraksi dengan kita. Baca lebih lanjut

Farsyi Turob lirik

فَرْشِي التُّرَابِ يَضُمُّنِي وَهُوَ غِطَائِي *** حَوْلِي الرِّمَالِ تَلُفُّنِي بَلْ مِنْ وَرَائِي

وَاللَّحْدُ يَحْكِي ظُلْمَةً فِيْهَا ابْتِلاَئِي *** وَالنُّوْرُ خَطَّ كِتَابَهُ اُنْسِي لِقَائِي

وَالْأَهْلُ أَيْنَ حَنَانُهُمْ بَاعُوا وَفَائِي *** وَالصَّحْبُ أَيْنَ جُمُوْعُهُمْ تَرَكُوا إِخَائِي

وَالْمَالُ أَيْنَ هَنَاءُهُ صَارَ وَرَائِي *** وَالْإِسْمُ أَيْنَ بَرِيْقُهُ بَيْنَ الثَّنَائِي

هَذِي نِهَايَةُ حَالِي،فَرْشِي التُّرَاب

فَرْشِي التُّرَابِ يَضُمُّنِي وَهُوَ غِطَائِي *** حَوْلِي الرِّمَالِ تَلُفُّنِي بَلْ مِنْ وَرَائِي

وَاللَّحْدُ يَحْكِي ظُلْمَةً فِيْهَا ابْتِلاَئِي *** وَالنُّوْرُ خَطَّ كِتَابَهُ اُنْسِي لِقَائِي

وَالْحُبُّ وَدَّعَ شَوْقَهُ وَبَكََى رِثَائِي *** وَالدَّمْعُ جَفَّ مَسِيْره بَعْدَ الْبُكَائِي

وَالْكَوْنُ ضَاقَ بِوُسْعِهِ ضَاقَتْ فَضَائِي *** فَاللَّحْدُ صَارَ بِجُثَّتِي أَرْضَي سَمَائِي

هَذِي نِهَايَةُ حَالِي ،فَرْشِي التُّرَابْ

فَرْشِي التُّرَابِ يَضُمُّنِي وَهُوَ غِطَائِي *** حَوْلِي الرِّمَالِ تَلُفُّنِي بَلْ مِنْ وَرَائِي

وَاللَّحْدُ يَحْكِي ظُلْمَةً فِيْهَا ابْتِلاَئِي *** وَالنُّوْرُ خَطَّ كِتَابَهُ اُنْسِي لِقَائِي

sumber: http://arifinsaputra.blogspot.com/2012/02/teks-farsyi-turob_18.html#ixzz2voirn7Uy

Kisah Perdebatan Imam Sibawaih dan Imam Kholil

Diantara hikayat antara Imam Kholil dan Imam Sibawaih adalah ketika kedua orang guru dan murid tersebut berdebat mengenai a’rifu al-maa’rif atau diantara 6 isim ma’rifah, isim ma’rifah mana yang dianggap paling ma’rifah. Cerita lengkapnya seperti dibawah ini :

Sebagaimana biasa, pada tiap harinya Imam Sibawaihi selalu belajar dengan gurunya yakni Imam Khalil bin Ahmad Al-Farahidi. Kebetulan pada hari itu objek kajian mereka berkenaan dengan isim-isim ma’rifah. Setelah mendengar keterangan dari gurunya yang menjelaskan bahwa isim ma’rifah yang paling ma’rifah itu adalah isim dhomir, muncullah suatu keraguan dihati Imam Sibawaihi. Dia bertanya-tanya dalam hati sembari merenungkan kalimat demi kalimat yang disampaikan oleh gurunya itu. Pas pada waktu gurunya diam, Sibawaihpun angkat bicara seraya berkata “setelah mendengarkan keterangan guru, saya agak ragu apakah benar isim yang paling ma’rifah itu adalah isimdhomir..?”,

Mendengar pertanyaan skeptis darimuridnya itu Imam Khalil mengeluarkan seluruh dalil-dalil dan keterangan-keterangan untuk menjelaskan dan menguatkan pendapatnya. Namun setelah dijelaskan beberapa kali, tetap saja Imam Sibawaihi meragukannya dan malahan menyanggah apa yang disampaikan oleh gurunya itu. Dengan tanpa mengurangi rasa hormatnya terhadap sang guru, Sibawaihi mencoba menyampaikan pendapatnya dengan tenangdan argumentatif. Sibawaihi lebih setuju kalau isim yang paling ma’rifah diantara asmaaul ma’rifah itu adalah isim alam.

Akan tetapi gurunya tidak terima dengan pendapat yang barusan dia utarakan dan bersikukuhn dengan pendapatnya. Tapi Sibawaihi adalah seorang yang sangat jenius, dia membuktikan sendiri kebenaran pendapatnya itu dengan pendekatan empiris. Suatu malam, dia sengaja berkunjung ke rumah gurunya itu. Setelah berada didepan pintu rumah gurunya, Sibawaihi tidak langsung masuk dan menemui Imam Khalil sebagaimana biasanya. Akan tetapi dia mengetok-ngetok pintu rumah gurunya itu beberapa kali dengan harapan beliau akan bertanya siapa sebenarnya yang datang. Setelah beberapa kali diketuk, ternyata gurunya itu belum juga muncul dan bertanya.

Kemudian untuk kesekian kalinya kembali ia mengetuk pintu sampai terdengar daridalam rumah suara Imam Khalil yang bertanya “siapa..?”.

Mendengar suaru tersebut, bukan main senangnya hari Imam Sibawaihi, karena memang pertanyaan itulah yang ia harapkan terlontar dari mulut Imam Khalil. Dengan segera dia menjawab “ana”. Karena merasa belum jelas.

Imam Khalil kembali bertanya “ana siapa.?”

Kemudian dijawab lagi oleh Imam Sibawaih “ana”.

Mendengar jawaban tersebut Imam Khalil merasa penasaran, siapa sebenarnya orang yang menjawab saya itu. Saking penasarannya, beliau langsung berjalan ke depan pintu dan langsung membukanya. Pada saat pintuterbuka, ternyata orangyang menjawab ana itu tak lain dan tak bukan adalah Sibawaihi murid kesayangan beliau sendiri.

Pada saat yang bersamaan Sibawaihpun tersenyummelihat gurunya yang tengahberdiri didepan pintu sembari berkata, “Bagaimana guru, apakah engkau hingga saatini masih bersekukuhmengatakan Isim dhomirsebagai isim yang palingma’rifah? Bukankah ketika saya datang kemudian anda bertanya siapakepada saya,terus saya jawab “ana” (isim dhomir) belum memberikan pengertian yang jelas terhadap Anda? Belum cukupkah bukti itu menunjukkan bahwa Isim Alam lebih ma’rifah daripada’isim dhomir?”

Mendengar pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan dari muridnya itu, Imam Khalil diam membisu dan tidak bisa berkata apa- apa lagi. Dia telah dikalahkan oleh muridnya sendiri, yaitu Sibawaihi.

Kisah Imam Sibawaih

As-sibawaih yang memiliki nama asli Amr ibn Abbas adalah salah satu tokoh ulama yang menguasai berbagai disiplin ilmu terutama ilmu tata bahasa Arab yang dikenal dengan nama Nahwu. Beberapa hari setelah meninggalnya ulama yang dikenal sebagai orang yang tubuhnya mengeluarkan aroma buah apel ini, salah seorang sahabat beliau bermimpi bertemu dengannya yang tengah menikmati kemegahan di alamnya. Sang Sahabat melihat Imam Sibawaih sedang memakai pakaian yang sangat mewah dengan hidangan beraneka warna disekitarnya serta dikelilingi oleh beberapa bidadari rupawan di sebuah tempat yang sangat indah mempesona. Sahabat itupun bertanya kepada Imam Sibawaih, gerangan apa yang membuatnya menerima kemulyaan begitu rupa. Imam Sibawaih kemudian menceritakan pengalamannya ketika ditanya oleh malaikat di dalam kubur.  Ketika malaikat sudah menanyakan pertanyaan-pertanyaan kubur yang seluruhnya dapat dijawab dengan baik, malaikat bertanya kepadanya :
“Tahukah anda, perbuatan apa yang telah membuat anda bisa menjawab dengan baik pertanyaan-pertanyaan kami tadi ?”
“Apakah karena ibadah saya?” Imam Sibawaih mencoba menebak.
“Bukan itu!” kata Malaikat.
“Apakah karena karangan-karangan saya?”
“Bukan!”
”Berbagai jawaban yang diberikan oleh Imam Sibawaih tidak ada yang dibenarkan oleh Malaikat.
Hingga akhirnya Imam Sibawaih menyerah karena tidak mengetahui jawaban sebenarnya.
“Allah SWT telah menyelamatkan anda sehingga anda dapat menjawab pertanyaan kubur dengan baik adalah karena pendapat anda yang menyatakan bahwa yang paling ma’rifat dari semua isim ma’rifat adalah lafazh jalalah”. Kata Malaikat menerangkan. ( Ulama’ nahwu yang lain berpendapat bahwa yang paling ma’rifat dari semua isim ma’rifat adalah isim dhomir )

Pesan Kebaikan dari Pohon Pisang

Pisang, pohon yang habitat aslinya adalah hutan Amazon di Amerika Selatan ini ternyata membawa banyak pelajaran bagi manusia. Kita dapat mengambil pelajaran dari pohon pisang melalui daur hidup dan perilakunya. Ilustrasi pohon pisang  Apa yang anda pikirkan jika mendengar kata pisang? Bagi sebagian orang, pisang identik dengan monyet. Entah siapa yang pertama mengatakan bahwa monyet makan pisang. Faktanya monyet tidak hanya makan pisang, monyet itu omnivora, memakan apa saja yang bisa dimakan. Namun sebagian besar orang berpikir bahwa pisang itu buah yang murah dan kulitnya bisa bikin orang terpeleset.

Filosofi hidup pohon pisang

Mungkin ada baiknya kita tidak sekedar menikmati buah pisang saja. Kita bisa mulai mengamati pohon pisang. Ada banyak hal yang bisa kita petik dari pohon pisang, selain buahnya. Berikut adalah beberapa pelajaran yang bisa kita dapatkan dari pohon pisang.

  • Pisang itu simbol regenerasi. Setahu saya, pohon pisang hanya berbuah sekali saja. Habis itu pohon pisang akan memiliki “anak”. Pohonnya akan mati setelah memiliki anak. “Anak” inilah yang akan membesar dan berbuah, lalu punya anak lagi dan mati, begitu seterusnya.Hikmah dari daur hidup pohon pisang ini adalah regenerasi. Manusia yang tua, sudah seharusnya mengalah dan menyerahkan urusan kepada yang lebih muda. Tidak ada manusia yang terus berkuasa selamanya. Jika sudah merasa tua dan tidak mampu, akan lebih baik digantikan oleh yang lebih muda.
  • Pisang itu tidak pendendam. Untuk mengambil buahnya, pohon pisang harus dipotong, minimal bagian tandannya. Meskipun pohon pisang disakiti, namun ia tidak menyuruh anaknya untuk balas dendam, misalnya dengan berbuah yang pahit atau beracun. Apa yang dapat kita pelajari dari hal ini?Manusia seringnya mewariskan dendam kepada keturunannya. Seorang bapak yang pernah disakiti orang, akan menceritakan kepada anaknya. Padahal sang anak tak ada urusan dengan orang yang menyakiti itu. Pohon pisang hanya mewariskan kebaikan, tidak keburukan. Seharusnya, begitulah manusia kepada keturunannya.
  • Semua bagian tubuh pisang bermanfaat. Mulai dari akar hingga buah pisang, semuanya bermanfaat. Bahkan saat masih mentah pun, buahnya sudah dapat kita manfaatkan. Ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa dalam keadaan seperti apapun, kita harus bermanfaat bagi sesama. Manfaat diri kita minimal adalah sebesar kemampuan kita.Oleh karena itu jika kita adalah pelajar, ya belajar yang baik. Jika kita pekerja, maka bekerja yang baik dan giat. Semua orang yang bertindak positif, pasti membawa manfaat bagi orang lain, entah itu secara langsung atau tak langsung.

Demikian sekelumit pelajaran yang bisa kita ambil dari daur hidup pohon pisang. Kita harus ingat bahwa Allah tidak hanya mengajar manusia lewat kitab suci saja. Dia Yang Maha Kuasa juga mengajar kita lewat alam, yang juga ciptaanNya. Bagaimana menurut pendapat anda?

Kisah Wali Allah dan Bayi yang Berbicara

Juraij Al-Abid adalah salah seorang ahli ibadah yang soleh di kalangan Bani Israil. Awal mulanya dia adalah seorang pedagang, kemudian dia meninggalkan perdagangannya dan cenderung kepada ibadah. Dia membangunkan sebuah tempat ibadah untuk beribadah kepada Allah di dalamnya. Dia beruzlah dari manusia, dan inilah rahbaniyah di mana Allah dan Rasulullah melarang kita untuk menjadikannya sebagai cara hidup.
Juraij mempunyai seorang ibu yang solehah. Pada suatu hari si ibu datang untuk mengunjungi anaknya dan ingin berbincang dengannya. Si ibunya datang dan memanggilnya. Pada ketika itu dia sedang solat, maka dia lebih mengutamakan solatnya daripada menjawab panggilan ibunya. Baca lebih lanjut

Waktu,Nikmat yang Sering Terabaikan

REPUBLIKA.CO.ID, — Nikmat waktu yang telah dianugerahkan, sayangnya kerap dilalaikan. Sehingga perputaran masa lebih sering tak dipergunakan dengan maksimal.

Pengurus Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) Kota Bogor Abdul Halim, mengatakan penegasan ini seperti dinukilkan di hadis riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas RA. Rasulullah SAW menyebutkan, ada dua nikmat yang kerap diabaikan yakni nikmat luangnya waktu dan kesehatan.

Dia juga menjelaskan waktu merupakan hal paling berharga dan mahal yang dimiliki manusia. Hingga Allah SWT menyebutkan sumpahnya terhadap waktu dalam quran surah tersendiri yaitu al-Ashr. Baca lebih lanjut

Nasehat Abu Nawas untuk Sang Sultan

Ketika Sultan Harun Ar-Rasyid menunaikan ibadah haji. Pada Saat tiba di kota Kuffah, tiba-tiba terlihat oleh Sultan, Abu Nawas yang menaiki batang kayu, berlari-larian ke sana kemari dan diikuti anak-anak dengan riang. Wajah sang Sultan mendadak menjadi ceria dibuatnya. Pandangan Mata Sang Sultan berbinar-binar karena sangat merindukan sosok Abu Nawas. Memang Abu Nawas dalam beberapa bulan terakhir meninggalkan kerajaan Baghdad sebagai bentuk protes atas ketidak-adilan dan kesombongan Sultan. Sejak kepergian Abu Nawas itulah Sultan mengalami kesepian. Tidak ada lagi orang yang Baca lebih lanjut

Kisah Mbah Zainal dan Tukang Becak

tukang becak“Ke Nggading berapa, Kang?” Mbah Zainal Abidin Munawwir, Krapyak, menawar becak.

“Monggo mawon. Terserah panjenengan, Mbah”, tukang becak pasrah karena sudah kenal.

“Nggak bisa! Sampeyan harus kasih harga!”

“Yah… seribu, Mbah”. Itu harga yang cukup lazim waktu itu, walaupun sedikit agak mahal. Baca lebih lanjut

Di Balik Musibah Ada Hikmah

Dahula ada seseorang yang hidup di hutan Dia memiliki ayam jantan yang selalu membangunkannya,anjing yang setia menjaganya dari pencuri,keledai yang selalu ia gunakan untuk mengangkut air dan tendanya.

Kemudian pada suatu hari,ia datang ke perkampungan terdekat sekedar untuk berbincang-bincang dan beramah tamah dengan penduduk.Tiba-tiba terdengar olehnya kabar bahwa seekor musang telah memakan ayamnya..Maka ia berkata ,”Itu adalah suatu kebaikan kalau memang Allah yang menghendaki.” Baca lebih lanjut