Category Archives: Kisah Teladan

10 Kriteria Pemimpin Yang Islami

pemimpinAssalamu’alaikum wr wb

Saudaraku wahai muslimin dan muslimat,seprti yang telah kita ketahui bersama bahwa sebentar lagi kita akan melaksanakan pemilu pilihan presiden (pilpres),dan sudah barang tentu kita sebagai warga yang baik juga seorang muslim ingin jika  nantinya negara tercinta kita ini dapat dipimpin oleh pemimpin yang benar-benar memegang teguh peraturan Islam.

Berhubungan dengan hal tersebut,maka disini penulis berniat untuk memaparkan 10 hal yang menjadi kriteria pemimpin yang Islami dengan tujuan agar saudaraku sekalian dapat memilih pemimpin yang benar-benar siap untuk dijadikan sebagai seorang pemimpin.

Berikut adalah sepuluh kriteria tersebut :

:: 10 Kriteria Pemimpin Menurut Islam :: Baca lebih lanjut

Iklan

Kisah Perdebatan Imam Sibawaih dan Imam Kholil

Diantara hikayat antara Imam Kholil dan Imam Sibawaih adalah ketika kedua orang guru dan murid tersebut berdebat mengenai a’rifu al-maa’rif atau diantara 6 isim ma’rifah, isim ma’rifah mana yang dianggap paling ma’rifah. Cerita lengkapnya seperti dibawah ini :

Sebagaimana biasa, pada tiap harinya Imam Sibawaihi selalu belajar dengan gurunya yakni Imam Khalil bin Ahmad Al-Farahidi. Kebetulan pada hari itu objek kajian mereka berkenaan dengan isim-isim ma’rifah. Setelah mendengar keterangan dari gurunya yang menjelaskan bahwa isim ma’rifah yang paling ma’rifah itu adalah isim dhomir, muncullah suatu keraguan dihati Imam Sibawaihi. Dia bertanya-tanya dalam hati sembari merenungkan kalimat demi kalimat yang disampaikan oleh gurunya itu. Pas pada waktu gurunya diam, Sibawaihpun angkat bicara seraya berkata “setelah mendengarkan keterangan guru, saya agak ragu apakah benar isim yang paling ma’rifah itu adalah isimdhomir..?”,

Mendengar pertanyaan skeptis darimuridnya itu Imam Khalil mengeluarkan seluruh dalil-dalil dan keterangan-keterangan untuk menjelaskan dan menguatkan pendapatnya. Namun setelah dijelaskan beberapa kali, tetap saja Imam Sibawaihi meragukannya dan malahan menyanggah apa yang disampaikan oleh gurunya itu. Dengan tanpa mengurangi rasa hormatnya terhadap sang guru, Sibawaihi mencoba menyampaikan pendapatnya dengan tenangdan argumentatif. Sibawaihi lebih setuju kalau isim yang paling ma’rifah diantara asmaaul ma’rifah itu adalah isim alam.

Akan tetapi gurunya tidak terima dengan pendapat yang barusan dia utarakan dan bersikukuhn dengan pendapatnya. Tapi Sibawaihi adalah seorang yang sangat jenius, dia membuktikan sendiri kebenaran pendapatnya itu dengan pendekatan empiris. Suatu malam, dia sengaja berkunjung ke rumah gurunya itu. Setelah berada didepan pintu rumah gurunya, Sibawaihi tidak langsung masuk dan menemui Imam Khalil sebagaimana biasanya. Akan tetapi dia mengetok-ngetok pintu rumah gurunya itu beberapa kali dengan harapan beliau akan bertanya siapa sebenarnya yang datang. Setelah beberapa kali diketuk, ternyata gurunya itu belum juga muncul dan bertanya.

Kemudian untuk kesekian kalinya kembali ia mengetuk pintu sampai terdengar daridalam rumah suara Imam Khalil yang bertanya “siapa..?”.

Mendengar suaru tersebut, bukan main senangnya hari Imam Sibawaihi, karena memang pertanyaan itulah yang ia harapkan terlontar dari mulut Imam Khalil. Dengan segera dia menjawab “ana”. Karena merasa belum jelas.

Imam Khalil kembali bertanya “ana siapa.?”

Kemudian dijawab lagi oleh Imam Sibawaih “ana”.

Mendengar jawaban tersebut Imam Khalil merasa penasaran, siapa sebenarnya orang yang menjawab saya itu. Saking penasarannya, beliau langsung berjalan ke depan pintu dan langsung membukanya. Pada saat pintuterbuka, ternyata orangyang menjawab ana itu tak lain dan tak bukan adalah Sibawaihi murid kesayangan beliau sendiri.

Pada saat yang bersamaan Sibawaihpun tersenyummelihat gurunya yang tengahberdiri didepan pintu sembari berkata, “Bagaimana guru, apakah engkau hingga saatini masih bersekukuhmengatakan Isim dhomirsebagai isim yang palingma’rifah? Bukankah ketika saya datang kemudian anda bertanya siapakepada saya,terus saya jawab “ana” (isim dhomir) belum memberikan pengertian yang jelas terhadap Anda? Belum cukupkah bukti itu menunjukkan bahwa Isim Alam lebih ma’rifah daripada’isim dhomir?”

Mendengar pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan dari muridnya itu, Imam Khalil diam membisu dan tidak bisa berkata apa- apa lagi. Dia telah dikalahkan oleh muridnya sendiri, yaitu Sibawaihi.

Kisah Imam Sibawaih

As-sibawaih yang memiliki nama asli Amr ibn Abbas adalah salah satu tokoh ulama yang menguasai berbagai disiplin ilmu terutama ilmu tata bahasa Arab yang dikenal dengan nama Nahwu. Beberapa hari setelah meninggalnya ulama yang dikenal sebagai orang yang tubuhnya mengeluarkan aroma buah apel ini, salah seorang sahabat beliau bermimpi bertemu dengannya yang tengah menikmati kemegahan di alamnya. Sang Sahabat melihat Imam Sibawaih sedang memakai pakaian yang sangat mewah dengan hidangan beraneka warna disekitarnya serta dikelilingi oleh beberapa bidadari rupawan di sebuah tempat yang sangat indah mempesona. Sahabat itupun bertanya kepada Imam Sibawaih, gerangan apa yang membuatnya menerima kemulyaan begitu rupa. Imam Sibawaih kemudian menceritakan pengalamannya ketika ditanya oleh malaikat di dalam kubur.  Ketika malaikat sudah menanyakan pertanyaan-pertanyaan kubur yang seluruhnya dapat dijawab dengan baik, malaikat bertanya kepadanya :
“Tahukah anda, perbuatan apa yang telah membuat anda bisa menjawab dengan baik pertanyaan-pertanyaan kami tadi ?”
“Apakah karena ibadah saya?” Imam Sibawaih mencoba menebak.
“Bukan itu!” kata Malaikat.
“Apakah karena karangan-karangan saya?”
“Bukan!”
”Berbagai jawaban yang diberikan oleh Imam Sibawaih tidak ada yang dibenarkan oleh Malaikat.
Hingga akhirnya Imam Sibawaih menyerah karena tidak mengetahui jawaban sebenarnya.
“Allah SWT telah menyelamatkan anda sehingga anda dapat menjawab pertanyaan kubur dengan baik adalah karena pendapat anda yang menyatakan bahwa yang paling ma’rifat dari semua isim ma’rifat adalah lafazh jalalah”. Kata Malaikat menerangkan. ( Ulama’ nahwu yang lain berpendapat bahwa yang paling ma’rifat dari semua isim ma’rifat adalah isim dhomir )

Kisah Wali Allah dan Bayi yang Berbicara

Juraij Al-Abid adalah salah seorang ahli ibadah yang soleh di kalangan Bani Israil. Awal mulanya dia adalah seorang pedagang, kemudian dia meninggalkan perdagangannya dan cenderung kepada ibadah. Dia membangunkan sebuah tempat ibadah untuk beribadah kepada Allah di dalamnya. Dia beruzlah dari manusia, dan inilah rahbaniyah di mana Allah dan Rasulullah melarang kita untuk menjadikannya sebagai cara hidup.
Juraij mempunyai seorang ibu yang solehah. Pada suatu hari si ibu datang untuk mengunjungi anaknya dan ingin berbincang dengannya. Si ibunya datang dan memanggilnya. Pada ketika itu dia sedang solat, maka dia lebih mengutamakan solatnya daripada menjawab panggilan ibunya. Baca lebih lanjut

Syair Yang Membuat Imam Ahmad Menangis

Berikut ini adalah sebuah kutipan syair yang diriwayatkan di dalam buku karya Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah membuat Imam Ahmad menangis tersedu-sedu hingga hampir pingsan. Hal ini menunjukkan betapa lembut dan pekanya hati Imam Ahmad terhadap hal-hal yang mengingatkan manusia kepada Rabbnya, dosa-dosanya, dan kehidupan akhirat.

Syair Pelembut Hati

Jika Rabb-ku mengatakan kepadaku: “Tidak malukah kau bermaksiat kepada-Ku?!
Engkau menutupi dosa dari para makhluk-Ku, tapi malah dengan kemaksiatan kau mendatangi-Ku!”
Maka bagaimana aku menjawabnya, dan siapa yang mampu melindungiku…

Aku terus menghibur diri dengan angan-angan (dunia) dari waktu ke waktu…
Tetapi aku lalai dengan perihal setelah kematian, tentang apa yang dapat mencukupiku setelah itu…
Seolah aku akan hidup terus, dan maut tidak akan menghampiriku…

Saat sakaratulmaut yang dahsyat itu benar-benar datang, siapakah yang mampu melindungiku…
Aku melihat wajah orang-orang… Tidakkah ada diantara mereka yang mau menebusku?!

Aku akan ditanya, tentang apa -yang kukerjakan di dunia ini- yang dapat menyelamatkanku…
Maka bagaimanakah jawabanku setelah aku lupakan agamaku…

Sungguh celaka aku… Tidakkah ku dengar firman Alloh yang menyeruku?!
Tidakkah pula kudengar ayat-ayat yang ada di Surat Qoof dan Yasin itu?!
Bukankah kudengar tentang hari kebangkitan, hari dikumpulkan, dan hari pembalasan itu?!
Bukankah kudengar pula panggilan kematian yang terus melayangkan panggilan dan seruan kepadaku?!

Maka ya Robb… akulah hambamu yang bertaubat… Tidak ada yang dapat melindungiku,
Melainkan Robb yang Maha Pengampun, lagi Maha Luas Karunianya… Dia-lah yang menunjukkan hidayah kepadaku

Aku telah datang kepada-Mu… maka rahmatilah aku, dan beratkanlah timbanganku…
Ringankanlah hukumanku… Sungguh Engkaulah yang paling kuharapkan pahalanya untukku

Versi Bahasa Arab Syair yang Membuat Imam Ahmad Menangis

إذَا مَا قَالَ لِي رَبِّي أمَا استحييتَ تَعصينِي … وتُخفي الذَّنبَ عن خَلْقي وبالعصيان تأتيني
فكيف أجيب يا ويحي ومن ذا سوف يحميني … أسلي النفس بالآمال من حين إلى حينِ
وأنسى ما وراء الموتِ ماذا بعدُ تكفيني … كأني قد ضمِنْتُ العيشَ ليس الموت يأتيني
وجاءت سكرة الموتِ الشديدةُ من سيَحْميني … نظرتُ إلى الوجوهِ أليسَ منهم من سيفديني
سأُسْأَل ما الذي قدَّمتُ في دنيايَ يُنجيني … فكيف إجابتي من بعدُ ما فرَّطتُ في ديني
ويا ويحي ألم أسمع كلام الله يدعوني … ألم أسمع بما قد جاء في قافٍ وياسينِ
ألم أسمع بيوم الحشر يوم الجمع والديني … ألم أسمع منادي الموتِ يدعوني يناديني
فيَا ربَّاه عبدٌ تائبٌ من ذا سيأويني … سوى ربٍّ غفورٍ واسعٍ للحقِّ يهديني
أتيتُ إليك فارحمني وثقِّل فِي موازينِي … وخفف في جزائي أنت أرجى من يُجازيني

sumber : http://blog.al-habib.info/id/2012/04/syair-ini-membuat-imam-ahmad-menangis/

Nasehat Abu Nawas untuk Sang Sultan

Ketika Sultan Harun Ar-Rasyid menunaikan ibadah haji. Pada Saat tiba di kota Kuffah, tiba-tiba terlihat oleh Sultan, Abu Nawas yang menaiki batang kayu, berlari-larian ke sana kemari dan diikuti anak-anak dengan riang. Wajah sang Sultan mendadak menjadi ceria dibuatnya. Pandangan Mata Sang Sultan berbinar-binar karena sangat merindukan sosok Abu Nawas. Memang Abu Nawas dalam beberapa bulan terakhir meninggalkan kerajaan Baghdad sebagai bentuk protes atas ketidak-adilan dan kesombongan Sultan. Sejak kepergian Abu Nawas itulah Sultan mengalami kesepian. Tidak ada lagi orang yang Baca lebih lanjut

Di Balik Musibah Ada Hikmah

Dahula ada seseorang yang hidup di hutan Dia memiliki ayam jantan yang selalu membangunkannya,anjing yang setia menjaganya dari pencuri,keledai yang selalu ia gunakan untuk mengangkut air dan tendanya.

Kemudian pada suatu hari,ia datang ke perkampungan terdekat sekedar untuk berbincang-bincang dan beramah tamah dengan penduduk.Tiba-tiba terdengar olehnya kabar bahwa seekor musang telah memakan ayamnya..Maka ia berkata ,”Itu adalah suatu kebaikan kalau memang Allah yang menghendaki.” Baca lebih lanjut

Bersedekah Kepada Pencuri,Orang Kaya dan Pelacur

Ternyata sedekah itu tidak mengenal salah sasaran meskipun diberikan kepada pencuri, orang kaya dan pelacur. Di riwayatkan di dalam Shahih Bukhari bahwa seseorang yang bersedekah dan ingin mendapatkan pahala Sedekah secara sembunyi – sembunyi “shadaqah sirr” , tidak di ketahui orang lain, ia pun mengumpulkan uang, lalu malam – malam ia menutup wajahnya dengan kain dia mencari orang yang berhak. Baca lebih lanjut

Rahasia di Balik Gerakan Shalat

ruku-1Setiap gerakan shalat yang dicontohkan Rasulullah SAW sarat akan hikmah dan manfaat. Syaratnya, semua gerak tersebut dilakukan dengan benar, tumaninah, serta dilakukan secara istikamah.

Suatu ketika Rasulullah SAW berada di dalam Masjid Nabawi, Madinah. Selepas menunaikan shalat, beliau menghadap para sahabat untuk bersilaturahmi dan memberikan tausiyah. Tiba-tiba, masuklah seorang pria ke dalam masjid, lalu melaksanakan shalat dengan cepat. Baca lebih lanjut

Kiyai Kholil Sarang & Ikan Bandeng

Ini cerita mutawatir, banyak orang yang meriwayatkannya.Kiyai Kholil Sarang Oleh karena itu, kesahihannya tidak diragukan lagi, dan saya telah mengonfirkasi saksi utamanya, yakni yang punya cerita: KH Zubaduz Zaman, atau Gus Bad dari Kediri.

Begini kisahnya. Dulu almagfurlah simbah Kiai Imam Kholil, pengsauh Pesantren MIS, Sarang-Rembang, Jawa Tengah, pernah memerintahkan santrinya untuk membuka tutup air tambak miliknya.

Tambak tersebut berisi ribuan ikan Bandeng siap panen harus dibuka, agar Bandeng keluar ke sungai. Ide Kiai Imam itu muncul karena saat itu sedang masa paceklik ikan, bahasa setempatnya “terak”. Baca lebih lanjut